Spanyol Menciptakan Sistem, Bukan Bintang
BADUITOTO – Spanyol Menciptakan Sistem, Bukan Bintang
Pekan lalu sebelum pertandingan semifinal Spanyol melawan Prancis saya sudah menuliskan tentang transformasi Spanyol. Dalam tulisan itu saya menjelaskan bagaimana La Roja berhasil mematahkan ungkapan bernada sarkas, “Silakan bawa pulang bolanya, saya yang angkut trofinya.”
Dalam transformasinya, Spanyol tidak lagi sekadar tim yang menikmati dominasi penguasaan bola, tetapi juga tim yang memiliki obsesi menang.Transformasi itu mengantar rekor luar biasa Luis de la Fuente dengan hanya sekali kalah dalam 39 pertandingan kompetitif hingga menjadi juara Piala Dunia 2026. Kekalahan terakhir adalah 0-2 dari Skotlandia pada Maret 2023.
Dalam tulisan kali ini, saya ingin menjelaskan perubahan yang lebih mendasar. Jawabannya bukan semata-mata soal taktik tetapi terbangunnya sebuah sistem.
Luis de la Fuente tidak datang sebagai penyihir yang mengubah wajah Spanyol dalam semalam. Dia justru merupakan produk dari sistem itu sendiri.
Selama lebih dari satu dekade, dia mengajarkan bahasa sepak bola yang sama kepada beberapa generasi pemain. Ketika naik ke level berikutnya, para pemain tidak sedang belajar filosofi baru. Mereka hanya melanjutkan pelajaran yang sama dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Sekadar ilustrasi, saat juara Euro U-19 2015, De la Fuente membawa tim yang termasuk Unai Simon, Rodri and Mikel Merino. Lawannya saat itu Prancis, tidak ada yang tersisa hingga 2026 kecuali Ousmane Dembele dan Marcus Thuram yang menjadi cadangan 11 tahun lalu.
Anda juga akan kaget, saat kalah melawan Prancis di semifinal Euro U-19 tahun 2013 Aymeric Laporte yang kini menjadi tulang punggung De la Fuente masih tergabung dengan lawan. Laporte baru membela timnas Spanyol pada 2021.
Sempurnakan Sistem yang Ada
Dalam salah satu wawancaranya, dia mengatakan persoalan Spanyol bukan memiliki bola terlalu lama, melainkan menguasai bola tanpa mampu bergerak maju.

Partner Resmi Baduitoto : Kurirslot
